Hingga kini, masih terdapat banyak informasi yang tidak jelas mengenai dampak negatif dari vaksin. Salah satunya menyebutkan bahwa vaksin MMR untuk anak dapat menyebabkan autisme. Bagaimana kebenarannya?
MMR adalah singkatan dari measles (campak), mumps (gondong), dan rubella(vaksin campak Jerman). Vaksin MMR efektif dalam mencegah ketiga penyakit tersebut.
Campak adalah penyakit menular yang sangat menyebar dengan gejala demam tinggi, batuk dan pilek, mata merah, serta munculnya ruam merah pada kulit.
Di sisi lain, penyakit gondok muncul dengan gejala demam, nyeri kepala, serta pembengkakan di satu atau dua sisi pipi bagian belakang/rahang bawah.
Penyakit campak Jerman (rubella) biasanya menunjukkan gejala demam selama 2-3 hari disertai dengan bercak merah.
Apakah vaksin MMR dapat menyebabkan autisme?
Persatuan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di situs resminya menyatakan bahwa hal ini sama sekali tidak benar.
Tidak ada bukti ilmiah yang menghubungkan vaksin campak atau MMR dengan autisme. Berbagai studi yang dilakukan di Amerika dan Eropa menunjukkan bahwa tidak ada kaitan antara vaksin MMR dan autisme.
Banyak penelitian dari American Academy of Pediatrics, Institute of Medicine, dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telah menyatakan bahwa tidak ditemukan kaitan antara vaksin MMR dengan munculnya autisme.
Penelitian yang dilakukan di 12 universitas terkemuka di Amerika ini diterbitkan dalam jurnal Journal of Autism and Developmental Disorders pada tahun 2006, yang mengamati 351 anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD) baik yang memiliki maupun tidak memiliki regresi, serta 31 anak dengan perkembangan normal yang menunjukkan kemampuan komunikasi sosial namun kemudian kehilangan kemampuan tersebut.
Temuan penelitian tersebut menyatakan bahwa tidak ditemukan bukti adanya kaitan antara perkembangan yang menurun pada autisme dengan vaksin MMR.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mendirikan sebuah komite yang terdiri dari para peneliti independen untuk meninjau kaitan antara vaksin MMR dan autisme. Hasilnya, tidak ditemukan hubungan antara keduanya.
Apa itu autisme?
Dikutip dari laman Kids Health, gangguan spektrum autisme atauautism spectrum disordermerupakan kondisi yang memengaruhi otak dan bisa menyebabkan seseorang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Mereka juga kesusahan berinteraksi dengan orang lain.
Hingga kini, para pakar masih belum yakin secara pasti apa penyebabnya.
Bagaimana mungkin muncul teori bahwa vaksin dapat menyebabkan autisme?
Sebagian besar dimulai dari sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 1998 yang menyatakan bahwa vaksin MMR atau infeksi oleh virus campak alami bisa menjadi penyebab autisme.
Dokter Wakefield di Inggris pada masa itu melakukan penelitian terhadap 12 anak yang dirujuk ke klinik akibat diare atau nyeri perut. Anak-anak tersebut memiliki riwayat perkembangan yang normal, tetapi mengalami kemunduran dalam beberapa keterampilan tertentu.
Saat dilakukan pemeriksaan, orang tua ditanya mengenai riwayat vaksinasi MMR (yang sudah diberikan sembilan tahun sebelumnya) serta kaitan antara vaksinasi MMR dengan hilangnya kemampuan tersebut.
Berdasarkan data tersebut, dengan jumlah subjek yang sangat terbatas, peneliti menyatakan terdapat kaitan antara vaksin MMR dan autisme.
Hubungan keduanya berawal dari kenangan orang tua yang terjadi beberapa tahun sebelumnya, bukan didasarkan pada bukti ilmiah yang objektif.
Selanjutnya, 4 dari 12 subjek mengalami masalah perilaku sebelum munculnya gangguan pada sistem pencernaan. Hal ini bertentangan dengan teori peneliti yang menyatakan bahwa gangguan saluran cerna (yang diakibatkan oleh vaksin MMR) akan menyebabkan autisme.
Selanjutnya, berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin (atau komponen apa pun di dalamnya) dengan autisme.
Penelitian yang digunakan dalam penelitian tahun 1998 tersebut ternyata palsu. Dokter yang menulisnya kehilangan izin praktik kedokterannya dan jurnal medis tempat artikel tersebut diterbitkan juga mencabut artikel tersebut.
Bagaimana jika orang tua tetap menolak vaksinasi untuk anak mereka?
Meskipun bukti ilmiah yang tersedia saat ini telah membuktikan bahwa vaksin aman dan efektif, beberapa orang tua masih memilih tidak memberikan vaksin kepada anak mereka.
Ternyata, hal ini sangat berbahaya karena penyakit yang dapat dicegah melalui vaksin seperti campak masih terjadi. Anak yang tidak menerima vaksin lebih rentan tertular, demikian pula dengan orang-orang di sekitarnya.
Terkadang tubuh anak bisa menunjukkan respons setelah menerima vaksin, misalnya demam ringan atau munculnya ruam.
Namun, risiko reaksi berat akibat vaksin MMR dan vaksin lain yang direkomendasikan jauh lebih kecil dibandingkan bahaya penyakit serius yang bisa dicegah dengan vaksin tersebut.
Berdasarkan berbagai studi ilmiah yang telah dilakukan hingga saat ini, vaksin MMR tidak terbukti menyebabkan autisme. Vaksin MMR justru sangat berguna dalam mencegah penyakit campak, campak merah, gondong, serta komplikasi yang bisa mengakibatkan cacat atau bahkan kematian.
Berikut adalah fakta mengenai teori vaksin MMR pada anak yang diklaim bisa menyebabkan autisme. Jika Ibu masih meragukan atau memiliki pertanyaan terkait hal ini, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut, ya.
Pilihan Redaksi
|
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk joinkomunitas Squad. Daftar klikdi SINI. Gratis!
4 Daftar Vaksinasi Anak yang Tidak Boleh Ditunda Pemberiannya
Radang Paru pada Anak: Pahami Penyebab, Tanda-Tanda, dan Cara Mengatasi Kondisi Ini
Ketahui Jadwal Vaksinasi Anak Usia 0-6 Bulan agar Tidak Terlewat
KOMENTAR